Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, melakukan kunjungan resmi ke Australia pada Rabu, 12 November 2025, sebagai bagian dari agenda diplomasi pertahanan dan penguatan hubungan bilateral kedua negara. Dalam kunjungan tersebut, Prabowo Subianto Tinjau Kapal Perang HMAS Canberra yang berlabuh di Garden Island Naval Base, Sydney.
Baca Juga : Era Kuantum Resmi Mengubah Lanskap Industri Teknologi
Kunjungan ini menjadi simbol kemitraan erat antara Indonesia dan Australia, khususnya di bidang pertahanan, keamanan maritim, serta stabilitas kawasan Indo-Pasifik.
Profil Singkat HMAS Canberra
HMAS Canberra (L02) merupakan kapal perang amfibi kelas Canberra milik Angkatan Laut Australia (Royal Australian Navy). Kapal ini memiliki panjang 230 meter dan bobot lebih dari 27.000 ton, menjadikannya kapal perang terbesar yang dimiliki Australia.
Kapal ini berfungsi sebagai kapal induk helikopter dan kapal amfibi serbaguna (LHD – Landing Helicopter Dock). Ia mampu membawa:
- 1.000 personel pasukan,
- 110 kendaraan tempur,
- serta 18 helikopter tempur dan transportasi.
Fungsi utamanya meliputi operasi amfibi, bantuan kemanusiaan, hingga misi perdamaian internasional.
Rangkaian Kegiatan Kunjungan
Dalam kunjungan kenegaraan tersebut, Prabowo disambut langsung oleh PM Anthony Albanese dan Menteri Pertahanan Australia Richard Marles. Turut hadir pula Kepala Staf Angkatan Laut Australia, Laksamana Madya Mark Hammond.
Rangkaian acara meliputi:
- Upacara penyambutan resmi dengan penghormatan militer dan pengibaran bendera Indonesia.
- Tur dek utama HMAS Canberra, tempat Prabowo diperlihatkan sistem pertahanan kapal, kendaraan amfibi, dan logistik tempur.
- Kunjungan ke hanggar udara kapal, di mana Prabowo meninjau helikopter Sikorsky MH-60R Seahawk milik RAAF.
- Sesi foto dan konferensi pers bersama, yang diselingi candaan khas Prabowo saat ia mengaku menyukai alat musik bagpipe yang dimainkan oleh pasukan penyambut.
- Fly-pass atraktif oleh empat pesawat aerobatik RAAF Roulette di atas pelabuhan Sydney, sebagai penghormatan terhadap kunjungan kenegaraan Presiden Indonesia.
Makna Strategis Kunjungan
Kunjungan ini bukan sekadar seremoni diplomatik, melainkan memiliki nilai strategis penting bagi hubungan pertahanan kedua negara.
Penguatan Diplomasi Maritim
Indonesia dan Australia memiliki wilayah laut yang bersebelahan langsung, menjadikan kerja sama di bidang maritim krusial dalam menghadapi tantangan regional seperti keamanan laut, penyelundupan, dan pelanggaran perbatasan.
Kerja Sama Pertahanan dan Teknologi
Kunjungan ini membuka peluang untuk:
- Pelatihan gabungan antara TNI AL dan Royal Australian Navy (RAN).
- Pertukaran teknologi pertahanan dan sistem komunikasi militer.
- Proyek riset bersama di bidang kapal amfibi dan drone maritim.
Implementasi Perjanjian Keamanan Baru
Dalam kesempatan yang sama, PM Albanese mengumumkan bahwa Indonesia dan Australia telah menyelesaikan negosiasi substantif atas perjanjian baru di bidang keamanan dan pertahanan bilateral, yang akan ditandatangani resmi pada Januari 2026.
Perjanjian ini merupakan pembaruan dari “Lombok Treaty 2006”, menandai babak baru kerja sama pertahanan modern antara dua negara di era geopolitik Indo-Pasifik.
Dampak bagi Indonesia
Kunjungan ini diharapkan memberi sejumlah manfaat strategis bagi Indonesia, antara lain:
- Meningkatkan kemampuan militer laut (naval capability) Indonesia dalam menghadapi ancaman kawasan.
- Mendorong transfer ilmu dan teknologi pertahanan dari Australia kepada Indonesia.
- Menjalin latihan gabungan rutin, seperti operasi penyelamatan maritim dan latihan amfibi.
- Memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain utama keamanan maritim di Asia Tenggara dan Pasifik Selatan.
Tantangan dan Catatan Penting
Meskipun kunjungan ini sarat makna positif, beberapa tantangan yang harus diantisipasi adalah:
- Sensitivitas geopolitik kawasan, terutama di tengah rivalitas kekuatan besar seperti AS dan Tiongkok di Laut Cina Selatan.
- Kebutuhan keseimbangan kebijakan luar negeri, agar kerja sama pertahanan dengan Australia tidak dipersepsikan sebagai keberpihakan pada blok tertentu.
- Keberlanjutan implementasi kerja sama, agar hasil dari pertemuan tidak berhenti pada tataran simbolik semata.
Kesimpulan
Kunjungan Presiden Prabowo Subianto Tinjau Kapal Perang HMAS Canberra bersama PM Anthony Albanese menjadi langkah diplomasi yang memperkuat fondasi hubungan strategis antara Indonesia dan Australia.
Dengan komitmen baru di bidang keamanan maritim, kerja sama teknologi pertahanan, dan stabilitas Indo-Pasifik, hubungan kedua negara kini memasuki era kemitraan strategis yang lebih solid dan saling menguntungkan.